![]() |
Majalah Siswa & Warga MAN Yogyakarta III | |||||||
| Edisi 12 | Mei 2003 | home | daftar isi | terkini | arsip | |||||||
|
Kenali Stress dan Tanggulangi dengan Benar Oleh : Ading Sofyudin (1B) Fulan pulang dengan rasa gamang. Hasil kerjanya selama sebulan ternyata sia-sia, bukan hanya itu dia dipermalukan di depan teman-temanya. Bagaimana tidak, tugas kimia semester ini ditolak dengan mudahnya oleh bapak guru yang killer itu pada saat presentasi. Yang kurang inilah yang kurang itulah, pokoknya serba kurang memuaskan. Mulailah ia malas mengikuti pelajaran kimia dan sering bolos pada saat pak guru killer itu mengajar. Perasaan bahwa dirinya paling bodoh di kelas mulai menghinggapinya. Ia mulai peka terhadap kritik sehingga mudah tersinggung dan tidak sabaran. Keluh kesah sering keluar dari mulutnya namun tidak ada teman yang mau menjadi tempat curhat dan ia merasa semakin kesepian. Akhirnya larilah ia ke rokok, barang yang tidak pernah ia sentuh sebelumnya. Pernahkah teman-teman merasa bete berkepanjangan seperti itu? Merasa malas, frustasi, tidak sabaran, tidak konsentrasi, gugup dan sebagainya? Atau malah ditambah dengan sakit perut, sariawan, gemetaran, keringat dingin, dan penyakit-penyakit “mendadak” lainnya? Hati-hati saja kalau teman-teman pernah seperti itu! Karena mungkin teman-teman baru terkena stres. Pikiran ruwet, mungkin ini yang ada dalam pikiran kita ketika mendengar kata stres. Para ahli psikologi mendefinisikan stres sebagai suatu reaksi fisik dan mental dalam diri seseorang agar dapat menyesuaikan diri terhadap pemicu stres yang menekan. Jadi sebenarnya stres itu hanya respon saja terhadap suatu pemicu stres yang bisa jadi salah satunya adalah pikiran ruwet karena suatu masalah. Nah penyesuaian diri inilah yang sering menyebabkan keseimbangan tubuh terganggu. Stres dikelompokkan berdasar akibatnya. Ada yang berakibat negatif terhadap diri sendiri dan orang lain. Dari segi kejiwaan, akibat negatif ini misalnya perasaan rendah diri, gugup, kesepian, cemas, agresif, malas, bosan, frustasi, tidak sabar, banyak mengeluh, kurang konsentrasi, tidak mampu memutuskan suatu hal, tidak berpikir panjang, mengalami hambatan mental, dan peka terhadap kritik. Parahnya akibat negatif ini dapat membawa ke perilaku yang negatif seperti ceroboh, perokok berat, peminum minuman keras, kecanduan narkoba, emosional, makan berlebih, dsb. Akibat stres yang seperti ini disebut distres. Inilah yang oleh kebanyakan orang disebut stres saja. Lalu jika si Fulan malah menjadi tercambuk dengan kritik pedas pak guru tersebut, ia mulai berintrospeksi diri. “Apa yang salah dengan pekerjaanku? Betulkah pekerjaanku keliru atau cuma pak guru yang maunya mencela saja?” Kesalahannya mulai ia perbaiki, bahkan ia tambah rajin belajar kimia. Tidak pernah ia membolos pelajaran kimia walaupun gurunya seperti itu. Apabila ia merasa tidak paham dengan suatu persoalan, tidak segan ia bertanya. Akhirnya ketika ujian semester tiba, ia bisa mengerjakan soal kimia dengan sukses. Nilainya pun selamat. Nah, kalau yang seperti ini disebut sebagai eustres ,atau akibat positif dari stres. Eustres adalah akibat stres yang dapat memunculkan hal-hal positif. Misalnya motivasi yang tinggi, meningkatkan inspirasi, kreatif, rajin belajar, dsb. Bagaimana caranya agar akibat stres yang negatif (distres) itu bisa menjadi positif (eustres)? Ada beberapa cara untuk dapat mencegah stres yang negatif menjadi positif, yaitu:
Mulai sekarang teman-teman tidak perlu bingung ketika gejala-gejala stres mulai muncul. Stres merupakan suatu respon fisik dan mental agar dapat menyesuaikan diri terhadap suatu kondisi yang menuntut dan membebani. Dan stres merupakan suatu hal normal yang harus kita atur dengan baik supaya menjadi stres dengan dampak positif bagi diri sendiri. Sumber: el-fata
|