![]() |
Majalah Siswa & Warga MAN Yogyakarta III | |||||||
| Edisi 12 | Mei 2003 | home | daftar isi | terkini | arsip | |||||||
| >> |
Janaka Frustasi Serpihan dari Pentas Malam Citra Mayoga (Senin, 21 April 2003) Berbicara masalah wayang, tidak akan lepas dengan makna dan filsafatnya, sosok tokoh yang digambarkan adalah merupakan figur yang sarat dengan contoh dan gambaran laku sekaligus hasil dari laku itu sendiri. Dalam naskah Janaka frustasi yang saya garap dengan guyon hanyalah sebagian dari sindiran sosial yang ingin kami ketengahkan dengan sangat sederhana, mengapa diambil tokoh Janaka, yang nota benenya adalah orang yang selalu sukses dan menjadi publik figur, baik di bidang jaya kawijayan maupun percintaan, tapi lain dengan yang kami garap sebagai materi guyon, Janaka sengaja saya jungkir balikkan agar publik penikmat menikmati kekagetan budaya. Janaka dalam naskah saya adalah figur pemuda pengangguran yang bermimpi, mimpi sukses dalam segala hal, seperti selalu digambarkan oleh para seneis di stasiun TV, berangkat dari sinilah saya ingin berbicara beda. Jadi Janaka di sini adalah hanya sepotong nama, dengan harapan publik penonton mudah mengingat ingat, dan merusak imajinasi bahwa Janaka itu di MAN menjadi berbeda dengan di jagat pekeliran, kegelisahan sosial yang meruyak jantung sengaja saya angkat karena bumbu ini sangat lah manjur agar kue guyon mathon ini sangat terasa di lidah awam. Tentu saja saya minta maaf pada para pemerhati budaya, khususnya wayang kulit karena Tokoh Janaka ini saya jogetke dengan cara saya. Janaka yang jatuh cinta pada sembadra, melalui beberapa pengantar atau perantara atau calo, sebagai kritikan terhadap kehidupan sosial kita, betapa sulitnya prosedur yang digelar untuk satu tujuan, Sembadra adalah sosok wanita idaman yang dirindukan oleh setiap laki-laki, saya gambarkan sebagai bakul jamu, karena jamu adalah obat atau sumber kesehatan, dan dalang adalah sebagai media pengantar cerita juga sebagai tokoh multi dimensi. Dengan lagu dan laku, kue guyon maton yang di irah-irahi Janaka Frustasi ini tontonan dan tuntunan bisa tercapai, meski endingnya adalah kampanye kepada para calon siswa agar masuk sekolah ke MAN III Yogya tercinta. Dengan bumbu agama atau pesan moral, dan sentilan sana-sini, semoga tidak membikin orang lain tersinggung. Tiada gading yang tak retak, sebuah ucapan kuna yang senantiasa pas untuk dipasang di mana saja dan kapan saja, kami minta maaf apabila kekurangan itu terpaksa hadir menyeruak di panggung pentas, dan menjadikan tontonan menjadi kurang nikmat di lidah budaya kita. Karena hanya saya ingin menggunakan kerudung reformasi sebagai alat mengoyak kesenian sebagai ekspresi kecintaan saya terhadap budaya dan penonton. Pesan yang terkandung, bahwa kenikmatan dunia itu akan teraih kala kita mau berusaha dengan kesungguhan kejujuran dan ketlatenan berdasar moral agama dan kemuliaan budi, yang hal tersebut senantiasa kami jalankan di sekolah di mana kami berada MAN III Yogyakarta. Sebagai yang diberi tanggung jawab bergulirnya roda kesenian di sekolah, saya hanya ingin berbuat dengan budaya kita bina siswa agar bisa mensyukuri nikmat berdasar agama, dan moral yang prima. Tentu saja kerja sama dengan rekan-rekan sesama pendidik yang lain, kita saling bahu membahu agar kereta cita-cita bersama bisa meluncur sampai tujuan, dengan niat memayu hayuning bawana, amar makruf nahi mungkar menyatu jadi satu. Awang Rebholegie
|