""FULL day school ini sebenarnya sudah berlangsung sejak tahun lalu, tapi tidak formal. Mulai tahun ajaran ini, kami baru berani menetapkan secara baku sebagai persiapan menjadi SMU Negeri Islam terpadu (SMUNIT),"" ungkap kepala mayoga, Drs. H. Sukardi dalam jumpa pers di ruang sidang Mayoga, kemarin.
Sekolah yang telah ditetapkan Departemen Agama sebagai Madrasah Percontohan ini berusaha memadukan aspek akal dan hati (ruhiah), aspek akademik dan life-skill.
Dijelaskan Sukardi, dalam program persiapan khusus untuk hidup mandiri. Seperti, industri mebelair, ukir, tata busana, batik, teknisi komputer dan program ekstra, olah raga, kesenian, keagamaan, jurnalistik dan kepemimpinan. Untuk menunjang semua kegiatan tersebut, berbagai fasilitas, seperti laboratorium bahasa dan komputer lengkap, telah tersedia, termasuk untuk akses internet.
Kaur Kurikulum dan Pengajaran Thoha S.Pd menambahkan model kurikulum yang digunakan bersifat inivatif dan kreatif, integrative dan dengan pola pendampingan bebasis penampingan. Pengembangan sarana prasarana seperti kampus yang bisa digunakan siswa dengan nyaman juga diadakan di MAN yang pernah meluluskan Mendiknas Fadjar ini.
""Dengan model-model tersebut, kami ingin lulusan Mayoga memiliki dasar imtaq (iman dan taqwa), nasionalisme, wawasan iptek yang mendalam dan memiliki kepekaan sosial dan disiplin tinggi.""
Sementara itu Ketua Majelis Madrasah (Komite Sekolah) Mayoga Dr. Ir. Indarto mengatakan, fungsi majelis madrasah yang dipimpinnya, hanya membantu Mayoga agar bisa sejajar dengan sekolah-sekolah unggulan di DIJ.
""Membuat madrasah ini sejajar dengan sekolah unggulan lainnya, bukanlah mimpi karena potensi yang dimilikinya,"" imbuh dekan Fakultas Teknik UGM ini.
Madrasah mutu, Mayoga rupanya tidak main-main. Bukti nyata yang ingin ditunjukkan, dengan mengambil konsultan yang mengawasi mutu dan kualitas Mayoga,. Konsultan Mayoga, Drs. Zaenal Fanani menuturkan, dalam membuat kurikulum, Mayoga lebih menekankan pada kualitas dan prestasi. Seperti dalam ekstra kurikuler yang diambil siswa, mereka ditekanklan untuk menekuni satu bidang tapi mendalam. ""Misalnya olah raga, kami menekankan prestasi, sehingga yang melatih bukan guru olah raga, tapi benar-benar pelatih. Dengan system ini, banyak dihasilkan siswa berprestasi. (Kusrini, Radar Jogja, Selasa 24 Juni 2003)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




